Sebatas Mimpi – 2

Lanjutan Sebatas mimpi…

Setelah makan sesi malam dimulai, menambah kedekatan aku dan dia lebih terjalin. Kami satu kelompok. Dia hanya terdiam dalam kelopok, entah risih dengan adanya aku atau yang lain. Aku tak begitu meperdulikan hal itu yang penting aku bisa dekat dengannya. Sering aku memperhatikannya, tetap dia terdiam dan tertunduk tenang. Tak jarang pula aku menatap matanya dalam-dalam. Aku melihat sesuatu yang kuharapkan. Dia punya rasa yang sama. Memang setiap orang berbeda sikap saat ada cinta di hatinya.

Belum ada kata yang keluar dari mulutku tertuju pada dia. Aku tengok jam menempel pada dinding ruang hampir usai acara ini. Keberanian untuk ungkapkan belumlah cukup, aku harus berfikir ulang. Benar ini selesai sebelum aku mendekat lebih jauh. Dalam kamar penuh kegelisahan aku mainkan hand phone di tangan kananku. Salah satu teman yang masih pengantin baru berkata, “Tenang saja dia juga merespon, kalau kamu serius aku akan bantu!”. Ku menatapnya dengan senyum hambar. Lega hati ini walau belum pasti dia mau atau tidak. Malam ini aku percepat tidurku agar besok lebih awal bisa bertemu, ku pejamkan mata ini dengan handset di telinga. Namun tidak kunjung terlelap, hanya dia yang terlihat. Semakin lama semakin jelas dan nyata. Apa benar aku jatuh cinta? Selalu terucap dan membuat bimbang. Ini lain dari yang kemarin. Aku selalu ingin bersamanya. Berjam-jam terbaring tanpa tertidur membuat tak nyaman, sesekali aku tengongok tiga teman disampingku. Dengan pulas mereka tertidur. Ngantuk memang ada tetapi terus terjaga. Aku sibukkan diri corat-coret buku menuliskan namanya, memanggil dan merasakan kehadiran disisiku, semoga dia juga begitu. Ku pejamkan mata kembali dan pagi menyambut.

 

Seperti hari kemarin dia masih terdiam, tak banyak yang bisa aku lakukan. Rabu menjelang petang tanpa sengaja aku bertemu dia di mini market tak jauh dari tempat pelatihan. Aku beranikan diri untuk bertanya, “Mbak nanti setelah sesi selesai kita bisa bertemu?”, “Tapi mas tidak macam-macam kan?”, Dia balik bertanya sebelum menjawab. Perlahan aku yakinkan dia, aku memang bersungguh. Dianya mengangguk dan aku kembali bersama temanku. Setelah mendapatkan yang dicari kami kembali ke kamar. Temanku membawa kantong plastik, tanpa aku duga dia hendak berikan kepada teman gadis itu. Mengapa tak terpikirkan olehku?. Melalui peserta putri lainnya dititipkan bungkusan itu, sayang saat ditanya, “dari siapa mas?”, temanku tidak meyebutkan namanya dan peserta putri itu lebih mengenalku, pertama disebut namaku kemudian teman saat titipan itu disampaikan. Mujur tanpa modal. Acara selesai lebih awal aku bersama teman segera beranjak keluar menemuinya. Berdua mondar-mandir di jalan namun tak kunjung dia datang, menanti beberapa saat dia berjalan bersama temannya dari jalan besar. Kepanikan menantinya terganti dengan kepanikan saat bertemu. Disebuah gang kecil menuju rumah warga menjadi tempat pertemuan kami.  Kacau tanpa persiapan kata, aku bingung mengungkap semua. Ku awali pertemuan ini dengan senyum saat dia terlihat mendekat. Aku bertanya dari mana dia dan berlanjut dengan pembicaraan lebih serius. Keraguanku hilang saat kata demi kata terucap dari bibirnya. Kita saling mencinta. Waktu semakin larut ku sudahi pertemuan dengan lembaran baru, cinta. Sementara dia kembali ke kamar aku bergabung teman yang berbincang di warung dengan suguhan kopi panas dan memang tiada keindahan dalam pelatihan ini melebihi pertemuan dengannya. Pertengahan malam istirahat dan tidur. Hari kamis survey lapangan seharian tidak bertemu karena berbedanya lokasi. Baru sore sepintas melihat dia berjalan dikejauhan. Dan benar-benar dengan jarak dekat melihatnya seusai prosesi penutupan acara pelatihan yang dipercepat, semula hari Jum’at baru selesai namun perubahan jadwal terjadi. Ini juga berarti mempercepat kebersamanku dengan dia.

 Cerita Fiktif

Cerita Fiktif

Jum’at pagi berenam pulang bersama naik bus umum jurusan Jogja, karena teman kami bisa duduk berdampingan. Memang tak layak tanpa ikatan pernikahan. Aku sangat menjaga diri bahkan untuk memegang telapak tangannya saja aku tak berani. Banyak berbincang dan mengobrol mengenai pribadinya. Belum banyak yang aku ketahui, ini adalah proses awal untuk ke depan. Dia masih malu untuk berbicara. Pertama bagi aku dan dia, duduk berdampingan. Aku terus member perhatian, ku tawarkan minum, makanan ringan sampai permen bertuliskan kata. Dalam bukunya dia simpan permen itu. Dia sungguh wanita yang aku damba.  Keyakinan dalam benakku menjadikan keterikatan lebih kuat.Melalui video hand phone aku abadikan kebersmaan itu, walau resolusi rendah setidaknya pengobat kerinduan yang pasti akan aku alami. “Mengapa-mengapa ku jatuh cinta kepadanya, mengapa cinta kepadanya….” Sepenggal bait lagu yang mengiringi perjalan itu membuat aku tak ingin berpisah darinya. Terlebih tawa lahir dari bibir manisnya. Namun keadaan berkata lain, sesaat kemudian bus berhenti. Sampailah di Jogja. Kurang dari satu jam lagi kita berpisah. Berat aku terima kenyataan harus berpisah walau sementara. Kami sempatkan untuk menikmati baso, makanan kesukaannya saat ku tanyakan dalam bus tadi.

 

Disela penantian bus jurusan Solo aku serahkan dua benda milikku, bukan sesuatu yang mahal atau berharga. Namun begitu berarti dalam hidupku. Sebuah kitab kecil yang selalu hadir dalam hidupku. Aku harap itu bisa bermakna. Perjalanan kembali berlanjut mempercepat perpisahan. Tak lama sampailah di terminal Solo. Ujung pertemuan awal perpisahan. Warung selatan terminal tempat dia tuliskan kata dalam lembaran kertas kecil. Selalu aku baca dan tersimpan rapi hingga saat ini. Hendak menunda kepulangannya tapi waktu menjelang sore. Tidaklah mungkin aku mengelak kenyataan.  Dengan kata terakhir aku antar kepulangannya. Dia melambaikan tangan. Dan tanganku tergerak untuk membalas lambaiannya.

 

Sebatas mimpi kini aku tersadar esok ku jalani dengan cerita yang lain.

Baca ini juga: