Sebatas Mimpi – 1

Hitam kerudung dikenakan, seorang gadis dengan senyum simpul menghias setiap saat. Lesung dikedua pipi pada wajah ovalnya serta mata yang bersih bening. Begitu lembut kata terucap dari bibir. Pancaran aura merona hingga merasuk jiwaku. Dia hadir dalam pencarian. 

Berawal dari kepulanganku ke rumah untuk liburan semester dua, kuliahku. Sehari di rumah aku mendapat tawaran untuk mengikuti pelatihan kesehatan di Kebumen selama lima hari. Tanpa pikir panjang aku terima. Ya sekedar penghilang senyap dalam diri. Hari Minggu pagi berangkat bersama teman ke terminal kota dengan sepeda motornya. Belum keluar dari kampung terjatuhlah kami karena bertabrakan dengan pengendara lain yang datang tiba-tiba dari arah selatan yang tak terlihat karena jalan agak menanjak. Tepatnya terhalang tebing  di pertigaan jalan, dekat lapangan sepak bola. Terhenti beberapa saat, perjalanan pun dilanjutkan dengan agak memaksa. Pukul sepuluh pagi barulah kami tiba di terminal kota dan bertemu dua teman yang telah tiba sebelumnya. Dengan sedikit bercengkrama kami naik bus jurusan Jogja dan transit di sana. Teman lebih tahu dan aku mengikut. Berjalannya roda menghantarkan kami samapai Jogja. Seperti sebelumnya perjalanan langsung berlanjut tanpa banyak melihat-lihat keadaan terminal yang penuh kendaraan dan orang berlalulalang. Langkah kaki tergerak untuk menuju bus jurusan Kebumen, tak terbayang sebelumnya, hal membosankan terjadi dalam perjalanan panjang. Waktu tempuh yang lama, gerah terasa, lapar meranda serta teringat kejadian di atas sepeda motor tadi pagi. Penat tak kunjung hilang, dengan sms teman aku harap semua tergantikan dengan suasana baru.  Sesekali aku perhatikan teman, mereka asik dengan dunia mereka sendiri. Sepertinya tak merasakan apa yang terjadi pada diriku. Waktu telah sore, empat jam dalam bus akhirnya sampai juga di Gombong, Kebumen.

Cerita

Cerita

Nafas panjang aku hirup pelega suasana. Salah satu teman mengajak untuk makan terlebih dahulu sebelum registrasi peserta. Semua menerima, kami makan bersama di warung kecil nan sederhana dengan menu seadanya. Begitu selesai, dilanjut dengan registrasi dan masuk kamar atas lantai dua untuk istirahat.

Dalam kamar cukup luas dengan lima ranjang tidur satu kamar mandi kami berempat bercanda untuk lebih mengenal. Terlihat karakter pribadi saat sendau gurau berlangsung. Satu teman begitu kocaknya dengan gaya yang khas. Selayaknya humoris professional dia menghibur para penggemarnya. Pernah kejadian saat peserta putri lalu-lalang di jalan tanpa risih melalui jendela kamar dia menggoda, kata “cewek” diucapkan dengan pekikan lantang. Seketika peserta putri itu pun melihat dengan dahi dikerutkan, serentak teman di kamar tertawa termasuk aku. Tawa terhenti saat adzan Maghrib terdengar. Kami bergegas mempersiapkan diri untuk shalat. Caandaan kembali hadir seusai shalat, sungguh pengalih hati yang penuh sesak dengan kebosanan. Pukul dua puluh peserta berkumpul diaula untuk pembukaan acara pelatihan. Semua berjalan biasa tanpa ada istimewa.

Sampai akhirnya Senin malam dibentuk dua kelas agar pelatihan berjalan efektif. Terlihat seorang gadis yang rasanya aku pernah mengenal, namun tak mampu aku mengingat dimana kita bertemu. Sedikit ragu aku tanyakan siapa namanya, mengingat-ingat dalam pikirku. Perhatianku alihkan ke pelatihan lagi sambil mengulang memori otakku. Terasa berbeda pertemuan ini. Tak banyak yang aku ingat, Tawangmangu tempat pertemuan kami. Untuk memastikan aku bertanya, “Apa kita pernah bertemu di Tawangmangu waktu pelatihan mengenai lingkungan?”. Dengan pasti dianya menjawab “Ya!”. Riang hati ini, mengembalikan sesuatu yang hilang. Rasa cinta. Memang kita pernah bertemu namun belum sempat kata terucap hanya mata penanda rasa dan lenyap sebelum menjadi nyata.

Aku lalui jadwal selanjutnya dengan semangat baru. Semua kebosanan luntur karena hadirnya dia. Sesi terakhir malam itu usai kami kembali ke kamar dan mengingat cerita yang pernah ada. Semakin kuat ingatan ini menjalani hari di lereng Lawu. Hari-hari dilalui disaat itu sudah mulai tumbuh benih-benih cinta namun tak sempat mengenal lebih dekat bahkan sekedar tau sipa namanya. Berhadapan kamar kami, dipisahkan dengan halaman kosong, tidak ada pertemuan. Seekali bersama teman melihat diannya berjalan melalaui jendela. Disela acara hanya tatapan sekilas bukan sebuah awal yang membekas. Kemudian perjumpaan itu hilang tak teringiang seiring berjalannya waktu tanpa perjumpaan. Kini bersambung ditempat ini kenangan yang akan aku wujudkan menjadi bagian terbesar dari hidupku. Hari Selasa tiba, sesi pertama senam pagi dengan mata menuju ke segala arah mencari dia dimana. Keyakinan semakin mendalam saat dia terlihat. Selanjutnya kedamainan bersemayam melewati hari ini. Sore tiba penanda bergantinya siang malam. Begitu cepat hari ini, terucap dalam benakku. Berbeda kisah bersama teman penuh candaan menggelitikkan. Saat makan tiba kami masih terhanyutkan tawa, dan begitu para peserta lain mengakhiri makannya dengan santainya berempat berjalan beriringan menuju ruang makan. Secara kebetulan petugasnya perempuan yang suka canda juga. Pastilah menjadi lahan garapan temanku. Di sebelah ujung ruang makan terdapat dua meja besar dengan lampu dimatikan. Tentulah itu bukan untuk peserta, karena masih banyak meja kosong dengan lampu sebagai penerang. Namun kami lebih memilih meja itu dengan remang dan jauh dari keramaian. Tak lama setelah kami duduk, dengan sedikit heran petugas itu menongok kami. Dengan senyum di bibir kami balas menengok. Kemudian makan pun berjalan lebih nikmat, tanpa tertinggal lawakan menjadi selingan. Setelah selesai kami memberesi meja yang digunakan. Ibu muda petugas itu, menegur kami dengan bahasa khas “ngapaknya” bukannya menanggapi serius kami malahan bercanda dengan menirukan kata yang diucapkannya. Dasar pecandu tawa, bahak tawa pun keluar bersama. Itu selalu terjadi dengan pengalih perhatian lain, mengawali kedekatan kami dengan para petugas yang bekerja dengan keringat mereka. Rasanya hanya kami peserta paling member bekas dalam pelatihan itu. Ketidak wajaran kami menjadi pengikat kedekatan sebagai keluarga. Tanpa ego dan kesombongan kami menghormati beliau dengan cara yang lebih bijak. Bukan sekedar mereka menyajikan kami makan, namun lebih dari itu.

Bersambung..

Baca ini juga: